Fitoremediasi, Mengolah Air Limbah dengan Tanaman
| Ditulis oleh Mujiyanto | |
| Tuesday, 01 July 2008 | |
Mungkin belum banyak yang tahu bahwa tanaman bisa menjadi media untuk mengolah air limbah, khususnya limbah berbahaya. Beberapa jenis tanaman memiliki kemampuan menyerap beberapa logam renik yang berbahaya. Konsep mengolah air limbah dengan menggunakan tanaman ini dikenal sebagai fitoremediasi.
Fitoremediasi berasal dari bahasa Yunani phyto (phyton) yang berarti tumbuhan/tanaman (plant), remediare (bahasa Latin) yang artinya memperbaiki/ menyembuhkan atau membersihkan sesuatu. Jadi fitoremediasi (phytoremediation) merupakan suatu sistem dimana tanaman tertentu yang bekerja sama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral dan air) dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara ekonomi.
Jenis-jenis tanaman yang sering digunakan untuk fitoremediasi adalah; Anturium Merah/Kuning, Alamanda Kuning/Ungu, Akar Wangi, Bambu Air, Cana Presiden Merah/Kuning/Putih, Dahlia, Dracenia Merah/Hijau, Heleconia Kuning/Merah, Jaka, Keladi Loreng/Sente/Hitam, Kenyeri Merah/Putih, Lotus Kuning/Merah, Onje Merah, Pacing Merah/Putih, Padi-padian, Papirus, Pisang Mas, Ponaderia, Sempol Merah/Putih, Spider Lili, dan lain-lain. Fitoremediasi cukup efektif dan murah untuk menangani pencemaran terhadap lingkungan oleh logam berat dan B3 sehingga dapat digunakan untuk remediasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah dengan menanam tumbuhan pada lapisan penutup terahir TPA dan menggunakan sistem wetland bagi kolam leachit. Bagaimana konsepnya penerapannya? Fitoremediasi diaplikasikan di lahan basah yang merupakan penampungan dari limbah yang mengandung bahan pencemar. Karena itu, harus disediakan terlebih dahulu areal penengendapan limbah berupa bak/kolam. Konstruksinya berupa kolam dengan pasangan batu kedap air dengan kedalaman sekitar 1 meter. Kolam ini dilengkapi dengan pipa inlet dan outlet. Di dalamnya diisi media koral (batu pecah atau kerikil) dengan diameter 5 mm-10 mm setebal 80 cm. Di lahan basah itu kemudian ditanami tumbuhan air dicampur beberapa jenis yang berjarak cukup rapat, dengan melubangi lapisan media koral sedalam 40 cm untuk dudukan tumbuhan. Air limbah diatur kedalamannya/levelnya. Tinggi permukaan air limbah yang dianjurkan 70 cm dari dasar kolam. Dengan demikian posisi air limbah selalu 10 cm di bawah permukan koral. Bagaimana cara menghitung luasan yang diperlukan untuk membangun kolam wetland? Luasan bisa dihitung berdasarkan Beban BOD yang masuk per hari dibagi dengan Loading rate pada umumnya. Untuk Amerika Utara = 32.10 kg. Untuk daerah tropis kira-kira = 40 kg BOD/Ha per hari. Contoh penghitungan: Ada dua faktor yang menentukan aplikasi fitoremediasi di lapangan, yaitu Memang teknologi ini belum banyak dikembangkan di Indonesia. Uji coba sudah dilakukan di Bali dengan sebutan wastewater garden (WWG) atau terkenal dengan Taman Bali seperti yang terlihat di Kantor Camat Kuta, Sunrise School, dan Kantor Gubernur Bali. Perkembangan pesat terjadi di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Inggris, dan Australia. Bahkan di sana beberapa tanaman hiperakumulator sudah dipatenkan. Kapan kita bisa mengejar mereka? sumber : http://issdp.ampl.or.id/ |
Mungkin belum banyak yang tahu bahwa tanaman bisa menjadi media untuk mengolah air limbah, khususnya limbah berbahaya. Beberapa jenis tanaman memiliki kemampuan menyerap beberapa logam renik yang berbahaya. Konsep mengolah air limbah dengan menggunakan tanaman ini dikenal sebagai fitoremediasi.

isna berkata,
Februari 12, 2009 pada 8:48 am
aku mo tanya, tanaman air kyk eceng gondok gitu bisa ga?
wahyu berkata,
Maret 30, 2009 pada 7:20 pm
saya mw tw gambar alatnya itu yang jelasnya kayak gmana?klo boleh, kasih tw saya lewat email y?
terima kasih_wahyu
tony berkata,
Juni 6, 2009 pada 8:35 am
Alam memang luar biasa, memiliki self purification sebagai kekuatan penyeimbang yang selalu mengagumkan. Kurangi dan hentikan penggunaan chemical… ternyata banyak cara alami yang ampuh dan sangat murah… bagi yang berjiwa bisnis, ini peluang bagus, tinggal sedikit sentuhan profesional di disainnya. tertarik ?
Apapun motivasinya, lingkungan tetap harus diselamatkan…
Enceng gondok dari dulu emang bisa jadi alternatif pengolahan, banyak kok literaturnya, mampir deh ke digilib-nya ITB or.. googling aja.