blognya harimawan

keep the spirit….

70 PERSEN SUMUR BELUM PENUHI KUALITAS BAKTERIOLOGIS


Monday, 15 March 2010 20:24

Yogyakarta, 15/3 (Antara/FINROLL News) – Sebanyak 70 persen sumur atau sumber air bersih di Kota Yogyakarta belum memenuhi syarat bakteriologis untuk air bersih karena masih mengandung bakteri coliform melebihi ambang batas yang ditetapkan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/Per/Menkes/1990, ambang batas kandungan bakteri coliform adalah 50 MPN/100 mililiter (ml), kata Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Eni Dwiniarsih di Yogyakarta, Senin.


"Kami tidak menutup mata, kualitas air bersih di Kota Yogyakarta secara bakteriologis memang kurang," katanya. Menurut dia, masih buruknya kualitas air bersih di Kota Yogyakarta dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah padatnya penduduk sehingga letak sumur sumber air berdekatan dengan sumur peresapan air kotor, atau tidak sesuai dengan jarak minimal yang disarankan yaitu 10 meter. "Masih banyak masyarakat yang memiliki sumur timba, dan bukan pompa sehingga terkadang ember atau tali timba yang kotor juga dapat mempengaruhi kualitas air," katanya. Selain itu, buruknya kualitas air bersih juga bisa disebabkan retak di septik tank atau jerambah di sekitar sumur sehingga air kotor kembali meresap ke sumur.

"Keberadaan bakteri e-coli dalam air minum yang dikonsumsi sehari-hari dapat menyebabkan seseorang menderita diare yang apabila tidak ditangani dengan baik akan bisa berakibat fatal," katanya.

Penanganan yang bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat agar tidak terserang berbagai penyakit akibat kualitas air yang kurang baik diantaranya adalah memasak air dengan suhu 100 derajat celcius dan tidak terburu-buru untuk mematikan kompor apabila air sudah mendidih, tetapi dimasak lebih lama. Atau memasukkan chlorine diffuser yaitu tabung berisi kaporit dan pasir ke sumur atau ke tandon air untuk mematikan bakteri coliform dan e-coli.

"Kami sudah memberikan sekitar 400 unit chlorine diffuser ke masyarakat melalui petugas di puskesmas, khususnya untuk sumur-sumur yang diprioritaskan, yaitu sumur milik masyarakat miskin, sumur milik umum dan sumur dengan risiko tercemar," ujarnya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas air secara kimia, lanjut dia, telah ada kerja sama dengan Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah yaitu dengan sistem ultrafiltrasi di sumur masyarakat. "Sumur milik umum telah ditambah dengan karbon aktif, dengan tujuan menurunkan kadar besi dan mangaan serta ditambah dengan alat desinfektan untuk membunuh bakteri dan alat penyaring untuk menurunkan kekeruhan air," katanya.

Bagi masyarakat yang ingin memeriksakan kualitas air sumur miliknya dapat menghubungi puskesmas terdekat dan membayar biaya uji laboratorium yaitu Rp22 ribu untuk mengetahui kualitas air bersih dan Rp23 ribu untuk mengetahui kualitas air minum. "Air minum yang baik harusnya terbebas dari bakteri e-coli dan bakteri coliform. Tidak boleh ada kandungan bakteri apapun atau zat kimia apapun dalam air minum," katanya.

Khusus untuk masyarakat yang tidak mampu, sumur umum dan sumur dengan risiko tercemar yang tinggi, lanjut dia, tidak dipungut biaya apapun untuk memeriksakan kondisi air sumur. "Tetapi, pemeriksaan air sumur harus dilakukan langsung oleh petugas, dengan alat-alat yang steril sehingga dapat diketahui dengan pasti kondisi airnya," kata staf Seksi Penyehatan Lingkungan Lina Sulistyanti. (E013)

sumber : http://news.id.finroll.com/

25 April 2010 - Posted by | ISSDP, lingkungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: